Just another WordPress.com weblog

Latest

Menilik Potensi Alam dan Potensi Kerentanan Bumi Samudera Pasai

Melakukan penggalian data potensi alam yang dimiliki Kabupaten Aceh Utara, akan menghasilkan urutan catatan panjang potensi alam yang dimiliki Daerah ini. Dengan luas wilayah 3.296,86 Km2 tak heran, bumi Samudra Pasai memiliki sumber daya alam yang melimpah, jika kita mencoba untuk mengintip potensi perkebunan, maka yang menjadi andalan hasil adalah tanaman kelapa, coklat, pinang, karet, dan kelapa sawit. Sedangkan dari sektor pertanian, Kabupaten ini juga menempati urutan teratas dengan jumlah luas sawah di tiap-tiap kecamatan mencapai 100 Hektare. tetapi yang menjadi pertanyaan nya adalah bagaimana masyarakat mengelola hasil alam yang melimpah. Dan mengapa angka kemiskinan dikabupaten ini masih tinggi diantara Kabupaten di Nangroe Aceh Darussalam. Saat ini masyarakat masih menjual hasil alamnya langsung tanpa melakukan pengolahan, sehingga harga jual menjadi permainan para tengkulak atau toke yang meraup keuntungan dari hasil alam yang dimiliki masyarakat.

Hasil alam selama ini masih dijual ke daerah Medan, jika kita melakukan flash back, bagaiamana orang Aceh tempo dulu mengolah hasil perkebunan kelapanya menggunakan peuneurah (alat pengepres) untuk menghasilkan minyak. Yang digunakan untuk kebutuhan memasak rumah tangga, dan bagaiamana pembagian peran antara laki-laki dan perempuan dalam mengolah hasil alam,dimana lelaki yang memetik kelapa dan perempuan yang mengolah hingga menjadi minyak untuk kebutuhan domestik rumah tangga. Dan bagaimana para ibu-ibu dulu mengolah tepung menggunakan Jingki (Alat penumbuk tradisional Aceh). Dan ini menandakan bagaimana masyarakat dulu berdaulat atas hasil alamnya, sangat miris jika kita melihat realita yang terjadi sekarang, dimana masyarakat merasa enggan untuk mengelola hasil alam nya sendiri. Dan lebih memilih untuk menjual langsung kepada para penampung atau tengkulak.

Pengelolaan Sumber Daya Energi

Pengeloaan secara partisipatif mungkin bisa menjadi suatu solusi dalam melakukan pengeloaan sumber daya alam lokal, dimana masyarakat dilibatkan untuk belajar bersama dalam mengelola hasil alam secara bersama-sama. Krisis energi yang diakibatkan oleh naiknya harga BBM sejak tahun 2005 sampai sekarang dimana harga minyak dunia sangat fluktuatif, telah mendorong diterbitkannya Peraturan Presiden No 5 tahun 2006 tentang kebijakan Energi Nasional.

Dan juga pelaksanaan program desa mandiri energy berbasis pohon jarak pagar, (Jatropha Curcas Henre) oleh Ditjen Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, akan tetapi mandiri dari segi energy tidak hanya berbasis jarak pagar, karena masih banyak sumber energy alternative yang bisa dimanfaatkan masyarakat, seperti pemanfaatan tempurung kelapa sebagai briket Arang yang digunakan untuk bahan bakar kebutuhan rumah tangga (baca briket solusi alternative energi Bagi Masyarakat).

Pemanfaatan energi tentunya harus ramah lingkungan, tapi realita pemanfaatan energi untuk kebutuhan rumah tangga diwilayah pedesaan mayoritas memanfaatkan kayu bakar yang diperoleh dari hutan yang dekat dengan desa. Ini sangat rentan, bayangkan jika proses ini terus berlanjut tanpa ada solusi pengelolaan sumberdaya energi berbasis masyarakat, dalam lima tahun mendatang mungkin banyak hutan yang akan gundul, akibat dari pemenuhan kebutuhan energi masyarakat, dan ini menjadi tanggung jawab berbagai pihak terutama pemerintah, dalam memenuhi Hak-hak Masyarakat untuk mendapatkan jaminan kehidupan yang layak. Seperti yang tertera dalam konvenan PBB tentang hak ekonomi social dan budaya setiap masyarakat dijamin oleh Negara.

Oleh karena itu harus ada alternatif konsumsi energi yang ditawarkan dalam masyarakat, seperti pemanfaatan arang tempurung kelapa sebagai briket arang, untuk kebutuhan memasak rumah tangga, akan tetapi kearifan lokal tidak boleh di abaikan karena setiap tempat memiliki jenis teknologi yang sudah lama diaplikasikan oleh masyarakat setempat,tetapi hanya perlu melakukan pengkajian ulang apakah teknologi yang mereka gunakan untuk mengelola sumber energi sudah ramah lingkungan.

Pemberian solusi alternatif memerlukan upaya-upaya yang sangat kompleks, dan harus diiringi dengan kerja nyata dari semua lapisan. Terutama masyarakat dalam menciptakan desa mandri energy dengan prisip ramah lingkungan. Salah satu Desa yang sangat minim pengelolaan, bahkan hasil yang digunakan untuk kebutuhan energy domestic rumah tangga adalah Desa Lancang Barat Kecamatan Dewantara tepatnya Dusun Pusong, di Desa Ini masyarakat harus membeli pelepah kelapa dengan harga 6000 rupiah per ikat, ini akibat dari kurangnya ketersedian sumber energy yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan energy rumah tangga, dan daya beli masyarakat terhadap bahan bakar minyak yang mencapai 4800 perliter.

Konsumsi energi bukan hanya salah satu Potensi kerentanan yang dihadapi Masyarakat di Kabupaten ini, ketersediaan air sebagai salah satu kebutuhan dasar juga menjadi suatu hal yang sangat penting untuk diperhatikan dan ditindak lanjuti. karena air merupakan salah satu kebutuhan dasar, dan kualitas kesehatan tergantung pada sanitasi dan higenitas air yang digunakan untuk kebutuhan setiap hari.

Pengelolaan Sumber daya Air bersih

Desa Lhok Seuntang Kecamatan Lhoksukon, merupakan salah satu potret kehidupan masyarakat Aceh Utara yang sangat minim akses terhadap pelayanan public, dalam ketersediaan sumber air bersih, Desa yang memiliki Jumlah penduduk 291 jiwa dan mayoritas mata pencarian penduduk didesa ini adalah petani. Desa yang terletak dikawasan dataran rendah ini sangat rawan akan ketersediaan Air bersih yang layak untuk dikonsumsi,” kalau hujan tidak turun selama dua bulan, maka kami harus mencari sumber air dari tanggul, atau saluran air terdekat. untuk kebutuhan sehari-hari, dan untuk kebutuhan konsumsi kami harus menggali sumur di rawa-rawa, “ ujar Pak Ilyas Abdullah (27/8) warga Desa Lhok Sentang. Realita itu sudah bertahun-tahun dihadapi oleh masyarakat yang mendiami desa dengan luas kurang lebih 700 hektare. Dan tak jarang mereka juga mengkonsumsi air hujan, yang mereka tampung dengan alat penampung sederhana, yang mereka buat dari pelepah pohon pinang. Teknologi lokal yang mereka gunakan selama ini untuk mendapatkan air bersih. walupun air hujan tidak aman jika dikonsumsi. tapi mereka sudah biasa mengkonsumsi air hujan, karena lebih jernih dan tidak bau, air di Desa Lhok Seuntang ini sangat tidak layak untuk dikonsusmsi, selain air yang berwarna kuning, air didesa ini juga bau.

Kekurangan sarana dan prasarana air bersih merupakan salah satu kerentanan, terhadap kualitas kesehatan masyarakat, untuk mendapatkan air yang bersih dan layak dikonsumsi, masyarakat harus membeli dari penjual air yang datang setiap hari ke Desa, dan mereka harus merogoh kocek sebesar dua ribu rupiah untuk mendapatkan satu jirigen 25 liter air bersih.

JINGKI Institute sebagai salah satu lembaga yang konsen dalam isu pemanfatan teknologi tepat guna berbasis masyarakat marjinal, mulai Bulan Juli Tahun 2008 sudah melalukan pengkajian data Badan Pusat Statistik Kabupaten Aceh Utara untuk langkah awal, dalam melakukan Riset Partisipatif di 22 Kecamatan dalam Kabupaten Aceh Utara. Dengan mengambil sampel satu Desa untuk tiap-tiap Kecamatan. Hal ini dimaksudkan untuk melihat bagaimana masyarakat di Kabupaten Aceh Utara, mengelola potensi sumber daya alam di Desa, dan bagaimana potensi kerentanan yang terjadi di setiap desa, dengan menurunkan para surveyor ditiap Desa. untuk mengetahui kebutuhan teknologi, dan pengelolaan Sumber Daya alam di setiap Desa sasaran riset, juga mengumpulkan data kerentanan akan ketersediaan sumber energi, dan sumber air bersih. Menurut Juni Prananta selaku Koordinator JINGKI Institute,Riset Partisipatif yang dilakukan JINGKI Institute menggunakan metode partisipasi, Observasi, Wawancara dan pengkajian dokumen hasil riset. Dimana dari riset ini akan menghasilkan identifikasi kebutuhan Teknologi Tepat Guna, yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, untuk menjawab pengelolaan sumber daya alam yang telah ada. dan hasil dari identifikasi kebutuhan, maka dirangkum dalam sebuah laporan, untuk di seminarkan dan akan melibatkan berbagai pihak seperti pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Utara,lembaga pendidikan dan para penggiat Lembaga Swadaya Masyarakat .yang selama ini konsen dalam pemberdayaan masyarakat. Yang bertujuan untuk sama-sama menghasilkan rekomendasi pengelolaan sumberdaya alam berbasis masyarakat. Semoga.*

glosary

Briket Arang :tempurung kelapa yang sudah menjadi arang digunakan sebagai bahan bakar alternatif pengganti

minyak lampu

KENAIKAN BBM DAN SOLUSI ENERGI BAGI MASYRAKAT

Pasca pengumuman kebijakan menaikan harga BBM oleh pemerintah yang berlaku sejak 24 Mei lalu semua bagian dari negeri ini tentunya merasakan dampak buruk baik langsung maupun tidak. Sudah barang tentu masyarakat kecil akan semakin terpinggirkan atas kebijakan ini. Kenaikan harga BBM yang rata-rata 20 persen berdampak langsung di masyarakat karena keterkaitan antara masyarakat, energi dan BBM sangat erat korelasinya. Ini terjadi diseluruh pelosok Indonesia tidak terkecuali provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Di desa Simpang Tiga Sigli misalnya, sebagian besar nelayan disana tidak dapat melaut pasca kenaikan harga solar yang sehari-hari dipakai untuk kebutuhan mereka ke laut. Hal terberat dari dampak kenaikan herga BBM juga di alami oleh kaum ibu di desa tersebut. “tadi malam di umumkan di TV, besoknya harga-harga langsung naik” ujar ibu……. saat ditemui team bulletin su-jingki.Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan inflasi yang terjadi pada bulan Mei cenderung akan terus meningkat

di bulan Juni dan kemudian berangsur turun di bulan Juli sehingga di prediksikan dampak kenaikan harga BBM pada Agustus 2008 sudah tidak terasa lagi (ANTARA-news). Yang pastinya masyarakat kecil akan terus merasakan dampak ini secara berkelanjutan. Masyarakat tidak ingin tahu berapa tingkat inflasi, berapa subsidi dan berapa kompensasi. Masyarakat hanya ingin mereka dapat bertahan dengan segala permasalahan bangsa ini termasuk permasalahan baru yang sedang dan akan dialaminya kedepan.

Teknologi Bahan Bakar Gas Alternatif

Namun tidak ada guna tentunya jika terus menerus mengecewai kebijakan yang “tidak pro rakyat” ini. Alangkah baiknya masyarakat memiliki kekuatan sendiri untuk survive dan dapat bertahan dengan kondisi yang sudah seperti ini seperti yang dilakukan oleh kelompok masyarakat di Desa Alue Capli Kabupaten Aceh Utara. Kenaikan harga BBM tidak begitu berat dirasakan karena kebutuhan energi rumah tangga untuk memasak berasal dari kotoran sapi yang di konversikan menjadi gas bio (biogas) teknologi ini pertama sekali diperkenalkan kepada masyarakat Alue Capli oleh LSM-JKMA Pase pada awal 2007 silam. Sistem proses untuk menghasilkan biogas juga sangat sederhana sehingga cocok di kembangkan di masyarakat kecil. Biogas adalah teknologi konversi biomassa (sampah) menjadi gas dengan bantuan mikroba anaerob. Proses biogas menghasilkan gas yang kaya akan methane dan slurry. Gas methane dapat digunakan untuk berbagai sistem pembangkitan energi sedangkan slurry dapat digunakan sebagai kompos. Produk dari digester tersebut berupa gas methane yang dapat dibakar dengan nilai kalor sekitar 6500 kJ/Nm3. dengan nilai kalor sekitar 450-540 Btu/scf. Dengan 1 buah digester yang berdiameter sekitar 9 feet gas ini dapat memenuhi kebutuhan bahan bakar memasak sebanyak 3 rumah. Teknologi ini sangat cocok diterapkan di lokasi penduduk yang memiliki banyak ternak. Reaktor biogas bukanlah teknologi baru. Sejak tahun 1970an, Denmark telah melakukan riset, pengembangan, dan aplikasi teknologi ini; mereka tercatat memiliki 20 instalasi pengolahan biogas tersentralisasi (centralized plant) dan 35 instalasi farming plant (Raven dkk, 2005). China juga telah membangun 7 juta unit reaktor biogas pada tahun 1980 an, sedangkan India juga mencanangkan tak kurang dari 400,000 reaktor biogas pada kurun waktu yang sama (Rahman, 2005). Dari lamanya pengembangan dan aplikasi teknologi biogas di dunia, dapat dikatakan bahwa teknologi ini sudah cukup mapan dan terbukti dapat memproduksi energi non BBM yang sekaligus ramah lingkungan.Teknologi biogas pada dasarnya memanfaatkan proses pencernaan yang dilakukan oleh bakteri methanogen yang produknya berupa gas methana (CH4). Gas methana hasil pencernaan bakteri tersebut bisa mencapai 60% dari keseluruhan gas hasil reaktor biogas, sedangkan sisanya didominasi CO2. Bakteri ini bekerja dalam lingkungan yang tidak ada udara (anaerob), sehingga proses ini juga disebut sebagai pencernaan anaerob (anaerob digestion). Bakteri methanogen akan secara natural berada dalam limbah yang mengandung bahan organik, seperti kotoran binatang, manusia, dan sampah organik rumah tangga. Keberhasilan proses pencernaan bergantung pada kelangsungan hidup bakteri methanogen di dalam reaktor, sehingga beberapa kondisi yang mendukung Berkembang biaknya bakteri ini di dalam reaktor perlu diperhatikan, misalnya temperatur, keasaman, dan jumlah material organik yang hendak dicerna.

Tahap lengkap pencernaan material organik adalah sebagai berikut (Wikipedia, 2005):

  1. Hidrolisis. Pada tahap ini, molekul organik yang komplek diuraikan menjadi bentuk yang lebih sederhana, seperti karbohidrat (simple sugars), asam amino, dan asam lemak.
  2. Asidogenesis. Pada tahap ini terjadi proses penguraian yang menghasilkan amonia, karbon dioksida, dan hydrogen sulfida.
  3. Asetagenesis. Pada tahap ini dilakukan proses penguraian produk acidogenesis; menghasilkan hidrogen, karbon dioksida, dan asetat.
  4. Methanogenesis. Ini adalah tahapan terakhir dan sekaligus yang paling menentukan, yakni dilakukan penguraian dan sintesis produk tahap sebelumnya untuk menghasilkan gas methana (CH4). Hasil lain dari proses ini berupa karbon dioksida, air, dan sejumlah kecil senyawa gas lainnya.

Di dalam reaktor biogas, terdapat dua jenis bakteri yang sangat berperan, yakni bakteri asam dan bakteri methan. Kedua jenis bakteri ini perlu eksis dalam jumlah yang berimbang. Kegagalan reaktor biogas bisa dikarenakan tidak seimbangnya populasi bakteri methan terhadap bakteri asam yang menyebabkan lingkungan menjadi sangat asam (pH kurang dari 7) yang selanjutnya menghambat kelangsungan hidup bakteri methan (Garcelon dkk). Keasaman substrat/media biogas dianjurkan untuk berada pada rentang pH 6.5 s/d 8 (Garcelon dkk). Bakteri methan ini juga cukup sensitif dengan temperatur. Temperatur 35 0C diyakini sebagai temperatur optimum untuk perkembang biakan bakteri methan (Garcelon dkk).

Teknologi Bahan Bakar Cair Alternative

Tidak dapat dipungkiri bahwa bahan bakar cair saat ini merupakan bahan bakar yang menjadi pilihan utama

Bioethanol

Bioetanol adalah bahan bakar nabati yang berasal dari fermentasi gula. bioetanol bisa diolah dari tanaman berpati seperti ubi kayu, jagung. Selain itu, juga bisa diolah dari jenis tanaman begula diantaranya, serta jerami bahan bakar ini sekarang sudah mulai diproduksi di indonesia sebagai bahan bakar yang dicampurkan dalam bensin dengan perbandingan 90 persen bensin dan sepuluh persen bensin disebut Gasohol E-10. Gasohol singkatan dari gasoline (bensin) plus alkoh

ol (bioetanol). Etanol absolut memiliki angka oktan (ON) 117, sedangkan Premium hanya 87-88. Gasohol E-10 secara proporsional memiliki ON 92 atau setara Pertamax, Tetapi untuk stasiun pengisian bahan bakar bioetanol masih sangat minim, jika dibandingkan dengan stasiun pengisian bahan bakar fosil, diindonesia baru terdapat di Pulau Jawa. Bahan bakar bio ini mengurangi laju pemanasan global.karena Pembakaran bensin yang lebih sempurna ketika di campur bioetanol sepuluh persen hal ini memperbaiki kualitas udara di kota-kota padat lalu lintas. Tetapi sisi negatif yang dikhawatirkan yaitu, berpotensi menjadi pesaing bahan pangan yang masih impor sampai dengan keanekaragaman hayati karena pertanian monokultur untuk bahan baku etanol.


Biodiesel

Bahan bakar ini sering disebut bahan bakar alternative. Itu dikarenakan, Biodiesel adalah bahan bakar yang murni dari alam, meskipun bisa juga dicampur dengan diesel. Karena sebenarnya biodiesel ini adalah bahan bakar alternatif untuk pengganti diesel.yang diproduksi dari minyak nabati, baik itu minyak baru maupun bekas penggorengan. Minyak tersebut harus diproses terlebih dahulu, yang disebut transesterifikasi dan esterifikasi.dan juga biodiesel bisa diproses dengan menggunakan bahan baku dari jarak, kapas, wijen, kacang kedelai, biji matahari, biji opium, kelapa, kelapa sawit, dan banyak tanaman lainnya. Namun tanaman yang cukup tinggi menghasilkan minyak nabati dan mudah ditemui di Indonesia adalah kelapa, kelapa sawit dan jarak. Ketiga tanaman ini menghasilkan minyak nabati di atas 1.600 liter / hektarnya.

Untuk Aceh. Bireuen satu kabupaten yang mengembangkan teknologi bahan bakar alternative biodiesel dari biji jarak, namun masyarakat masih enggan untuk menanam tumbuhan jenis ini. pasalnya, harga beliterbilang murah. Artinya, pemerintah harus menaikkan harga beli biji jarak, yang diolah sebagai bahan baku pengolahan biodiesel, dan menjadikan salah satu desa sebagai pilot projek pengembangan bahan bakar alternatif dan mengajak masyarakat untuk berpartisipatif dalam penyediaan bahan baku pembuatan biodiesel.

PUPUK ORGANIK DARI KOTORAN

Pengunaan pupuk pada tanaman menjadi hal yang lumrah dilakukan oleh petani, namun, dewasa ini sangat minim petani yang bertani dengan menggunakan pupuk organik,pupuk yang diolah dengan proses alami dari dedaunan dan kotoran lembu tanpa menggunakan zat kimia. Para petani sekarang lebih memilih menggunakan pupuk kimia seperti urea dan banyak jenis pupuk kimia lain yang digunakan, bahkan pestisida yang disemprotkan untuk memberantas hama pada tanaman. tetapi terkadang para petani tidak mengikuti anjuran pemakaian dan takaran penggunaan pupuk pada tanaman dana lahan pertanian. Akibat dari penggunaan pupuk kimia secara berlebihan, mengakibatkan kondisi struktur tanah rusak dan, kandungan harapun berkurang. dan, banyak lagi kerugian yang ditimbulkan.

Tapi lain halnya yang dilakukan oleh petani didesa Alue Caplie Kecamatan Senudon, Aceh Utara, 65 kilometer arah timur kota Lhokseumawe, mereka sudah mulai melakukan metode bertani secara organik sejak satu tahun lalu. dengan memanfaatkan sluri kotoran lembu, hasil samping dari biogas, yang bisa diolah menjadi pupuk cair dan pupuk padat, dan hasil utama dari biogas ini mereka gunakan untuk kebutuhan memasak keluarga sehari-hari. sluri ini mereka dapatkan dari saluran pembuangan, tabung pengupul kotoran lembu, atau yang biasa disebut digester biogas, tetapi penggunaan pupuk organik padat ini baru mereka gunakan pada jenis tanaman perkebunan, seperti cabai,terong, dan tanaman kebun lainnya, yusuf lelaki berusia 39 tahun ini memiliki Lahan yang ditanami terong dan cabai diareal seluas 400 meter persegi menggunakan pupuk organik yang diolahnya sendiri dari kotoran lembu hasil samping biogas.

Berikut hasil catatan alat dan bahan yang digunakan pak yusuf untuk membuat pupuk organik.

Tempat pembuatan pupuk organik harus terhindar dari sinar matahari dan hujan secara langsung. Dalam proses pembuatan pupuk organik ada tahapan dan langkah yang harus dilakukan untuk mendapatkan hasil pupuk organik. Ratakan sluri dengan kapur pada tempat yang telah disiapkan untuk penolahan pupuk , dengan ketebalan 30 hingga 50 centimeter, campurkan satu liter bakteri pengompos dengan sepuluh liter air kedalam ember,lalu siramkan bakteri diatas sluri secara merata,kemudian taburkan abu sekam padi hingga merata,terakhir tutup rapat seluruh permukaan pupuk dengan karung atau terpal. Dan diamkan selama 20 hari. Setelah tahap pembuatan. dilanjutkan dengan pembalikan pupuk yang sudah didiamkan selam kurang lebih 20 hari. Aduk dengan cangkul dan usahakan posisi bahan terbalik, yang semula diatas menjadi kebawah atau sebaliknya,usahakan kondisi pupuk dalam keadaan lembab, bila telalu kering perlu penambahan air secukupnya,pembalikan dilakukan setiap tiga hari sekali, dan jika pupuk sudah remah maka pupuk sudah bisa digunakan.

Praktek ini sudah dilakukan oleh petani Alue capli, dan mereka sekarang sudah mulai menyadari keuntungan jika menggunakan pupuk organik, walau pun belum mayoritas tanaman yang ditanam menggunakan pupuk alam atau pupuk organik dan mayoritas petani menggunakan pupuk organik, tetapi sudah ada yang memulai untuk kembali menggunakan pupuk organik, dengan harapan kedepan desa alue caplie bisa menjadi pilot projeknya pertanian organik diprovinsi ini.

BIOGAS SEBAGAI BAHAN BAKAR ALTERNATIF ASAL TERNAK

Ternak yang telah umum dikenal merupakan penghasil bahan pangan asal ternak berupa daging, susu dan telur yang merupakan sumber protein hewani.

Protein hewani tersebut sangat diperlukan untuk kelanjutan kehidupan manusia, peran protein hewani disamping sebagai faktor pertumbuhan tubuh, juga menjaga tingkat kesehatan serta memacu pertumbuhan otak sehingga tingkat kecerdasan dan produktivitas sangat berkaitan dengan kecukupan protein yang dikonsumsi oleh manusia.

Disamping manfaat ternak sebagai sumber protein, juga sebagai sumber tenaga tarik, untuk membajak disawah dan transportasi di sentra produksi pertanian. Selain itu limbah atau kotoran ternak sangat berguna untuk penyubur tanah sebagai pupuk organik. Proses membuat pupuk asal kotoran ternak tersebut juga menghasilkan gas atau (bio gas) yang mempunyai nilai ekonomi karena dapat dipakai sebagai energi sebagai pengganti bahan bakar minyak dan keperluan lain.

Dengan demikian kebutuhan masyarakat akan bahan bakar minyak (BBM) atau bahan bakar gas (LPG) dapat sebagian besar digantikan oleh BIOGAS yang dihasilkan dari proses Biodigester yang bahan bakunya kotoran ternak atau feces. Pada prinsipnya semua kotoran ternak dapat dipergunakan dalam proses biodigerter.

2. Potensi Biogas di Indonesia

Potensi biogas sangat berkaitan dengan jumlah populasi ternak dan pola pemeliharaan ternak.

Kontribusi produksi KTS berdasarkan adalah sebagai berikut :

1. Ternak ruminansia : 82,12 %

2. Ternak Non Ruminansia : 7,38 %

3. Ternak unggas : 10,50 %

Berdasarkan produksi KTS/tahun sebesar 80,19 juta ton akan mengkasilkan pupuk organik sebayak 32 juta ton yang dapat dipakai pada lahan pertanian seluas 3,2 juta Ha. Nilai pupuk organik yang dihasilkan adalah sebesar Rp 11,2 triliun (asumsi harga pupuk sebesar Rp 350/kg)

Produksi biogas yang dihasilkan setara dengan 4 juta kilo liter minyak tanah/tahun. Sedangkan Impor minyak tanah setiap tahun sebanyak 2,28 juta kilo liter, sehingga bila 50 % KTS diolah menjadi biogas, maka pemerintah tidak perlu lagi mengimpor minyak tanah.

Berdasarkan data diatas potensi ketersediaan biogas yang dapat dipergunakan oleh rumah tangga masyarakat pedesaan setara dengan 10.985.502 liter minyak tanah , yang apabila kebutuhan rata – rata minyak tanah rumah tangga 1.25 liter/hari, maka energi biogas ini dapat memenuhi kebutuhan 8.788.401 rumah tangga.

Dengan asumsi masyarakat pedesaan membeli minyak tanah seharga Rp 1.200 /liter, jumlah uang masyarakat yang biasanya untuk membeli minyak tanah dapat dipergunakan untuk keperluan ian sebanyak Rp 4,8 triliun.

Subsidi Pemerintah terhadap minyak tanah sekitar Rp. 1.847/ltr pada saat harga minyak tanah import 45 Dollar Amerika Serikatdan nilai tukar rupiah terhadap dollar Rp. 9.000

Dengan demikian subsidi bahan baker minyak tanah dapat disaving sebesar RP 7,38 triliun. Dari angka diatas peran KTS apabila diproses dengan teknologi sederhana cukup signifikan dalam perekonomian masyarakat pedesaan dan nasional.

2. Nilai Ekonomi Kotoran Ternak

Biogas yang bersumber dari kotoran ternak mempunyai nilai ekonomis sangat besar, sebagai contoh yang bersumber dari ternak ruminansia besar yaitu sapi perah, sapi potong dan kerbau, setiap hari dapat menghasilkan 23 kg kotoran ternak segar (untuk ternak ruminansia besar).

Berdasarkan efektifitas panas yang dapat dihasilkan oleh digester dengan volume 2 m3 selama 1 bulan memiliki nilai ekonomis sebagai berikut :

Dari 740 kg kotoran segar dapat menghasilkan biogas, yang energi panasnya apabila dipakai untuk kebutuhan masak (industri kecil dirumah tangga setara dengan 26 kg LPG atau 37 liter minyak tanah atau 210 kg kayu baker, dengan demikian rumah tangga yang mempunyai alat digester 2 m3 dapat menghasilkan energi biogas setara dengan minyak tanah 1,23 liter /hari.

Dari fakta ini dapat ditarik kesimpulan bahwa pemanfaatan biogas dapat sebagai solusi untuk masyarakat desa yang mempunyai ternak sehingga, kesulitan memperoleh bahan bakar minyak tanah atau LPG atau kayu bakar dapat terpenuhi untuk keperluan rumah tangga atau industri kecil yang mempergunakan bahan bakar konvensional tersebut
Selain itu sebagai hasil akhir dari proses biodigester tersebut setiap 25 kg kotoran segar dapat menghasilkan 10 kg pupuk organic padat. Biogas selain untuk keperluan masak di rumah tangga juga dapat dipergunakan sebagai lampu penerangan, penggerak mesin (pompa, peralatan untuk menggiling jagung,dll).

4. Dampak Teknologi Biodigester

Teknologi Biodigest juga berdampak positif terhadap lingkungan sebagai berikut :

1). Tidak menghasilkan asap (emisi)

2). Lingkungan peternakan menjadi bersih/higienes

3). Kuman-kuman pathogen menjadi mati karena proses an aerob

4). Pupuk organik yang dihasilkan lebih baik karena biji-bijian rumput liar yang ikut termakan ternak akan mati, sehingga pupuk tersebut tidak ikut menyebarkan gulma atau rumput liar pada areal tanaman yang dipupuk dengan pupuk organic hasil biodegester.

5). Dapat mencegah kerusakan hutan akibat pengambilan kayu bakar oleh penduduk sekitar hutan.

6). Erosi tanah dapat dicegah karena hutan tidak dirambah penduduk untuk keperluan kayu bakar. Dengan demikian berdampak positif terhadap pencegahan erosi, penggundulan hutan dan pendangkalan daerah aliran sungai (DAS).

5. Manfaat bagi perekonomian nasional

Teknologi produksi biogas yang berasal dari ternak bila digerakan secara masal diseluruh atau sebahagian besar areal pemukiman yang mempunyai populasi ternak disamping manfaat secara mikro terhadap ekonomi rumah tangga peternak dan petani juga secara makro sangat besar manfaatnya bagi perekonomian nasional. Manfaat secara makro tersebut sebagai berikut :

1). Mengurangi konsumsi (pemakaian) minyak tanah, LPG dan kayu baker masyarakat desa atau pinggir kota.

2). Mengurangi angka subsidi BBM (minyak tanah, solar) pupuk

3). Dapat mengurangi pemakaian listrik, karena biogas dapat dipergunakan sebagai lampu penerang.

4). Mengurangi pemakaian pupuk kimia, karena disubstitusi pupuk organik.

5). Mengurangi pemakaian gas alam untuk produksi pupuk kimia

6.) Dibidang pertanian meningkatkan kesuburan tanah

7). Dampak positif terhadap lingkungan (emisi udara, kuman pathogen).

8). Meningkatkan efisiensi usaha budidaya ternak.

9). Sistem manajemen usaha budidaya peternakan rakyat, menjadi lebih baik karena ternak dikandangkan baik koloni maupun per peternak, sehingga pengawasan kesehatan hewan/ternak, pelayanan teknis, pendataan dan upaya peningkatan produksi, produktivitas, serta peningkatan kualitas hasil produk peternakan dapat dicapai secara optimal. Dengan demikian upaya meningkatkan kesejahteraan peternak juga optimal.

6. Perhitungan Dampak Ekonomi Nasional.

Dari ternak ruminansia besar (sapi perah, sapi potong dan kerbau) yang jumlah populasi 3 (tiga) jenis ternak tersebut tercatat pada tahun 2004 sebanyak 13.680.000 ekor dapat menghasilkan kotoran ternak segar rata-rata 12 kg/ekor/hari.

Rataan produksi kotoran ternak segar tersebut diperoleh dari struktur populasi (anak, muda, dewasa). Dengan demikian volume kotoran segar per hari sebesar 164.160 ton atau per tahun 59.918.450 ton yang setara dengan 2.995,9 juta liter minyak tanah, dengan nilai Rp. 3.595.104 juta (3,59 triliun rupiah per tahun).

Apabila dapat diprogramkan dalam tahap awal 20% dari jumlah populasi ternak ruminansia besar tersebut maka nilainya menjadi 719 milyard rupiah per tahun. Nilai tersebut baru dari ternak ruminansia besar., belum lagi dari ternak ruminansia kecil (kambing, domba), ternak unggas (ayam ras petelur, ayam ras pedaging, ayam buras dan itik) seta ternak monogastrik (kuda dan babi). Hasil pupuk organik asal ternak sapi potong, sapi perah dan kerbau dan ternak lain, dapat mencapai 40 juta ton, jumlah ini dapat menyuburkan lahan sebanyak 4 juta hektar dengan 3 kali panen.

Global warming merupakan peningkatan suhu dari permukaan bumi!!

Kenapa hal itu bisa terjadi? Hal itu bias terjadi karena peningkatan produksi dari gas rumah kaca. Gas rumah kaca adalah sekelompok gas yang berada di atmosfer dan menyebabkan panas yang timbul dari permukaan bumi kembali dipancarkan ke permukaan bumi. Gas-gas ini “memerangkap” panas dalam permukaan bumi. Salah satu penumbang terbesar adalah karbon dioksida yang berasal dari pembakaran batu bara, minyak, dan gas.

Pemanasan global mempengaruhi kehidupan kita. Mulai dari segi ekonomi, sosial budaya dan kesehatan. Perilaku kita pun berinteraksi dengan kondisi pemanasan global sehingga turut mendukung terjadinya gangguan kesehatan. Terutama anak-anak yang merupakan kelompok masyarakat yang rentan terhadap penyakit. Mengapa demikian??? karena proses tumbuh dan berkembang secara fisik dan psikologis masih dalam perkembangan maka mereka rentan terhadap efek-efek dari bahaya lingkungan. Efek langsung berupa peningkatan temperatur, peningkatan zat-zat polusi mempengaruhi kesehatan mereka (asma dan alergi). Bila terjadi bencana akibat banjir maka anak-anak pun menjadi kelompok yang paling menderita. Mereka rentan terhadap penyakit seperti diare, mereka rentan terhadap stres, apalgi bila kehilangan tempat tinggal, sekolah atau keluarga. Pengungsian akan membuat mereka semakin rentan tertular penyakit karena padatnya orang dalam pengungsian.

Apa yang bisa kita lakukan???

Sadar atau tidak kita turut menyumbang kepada pemanasan global. Gas rumah kaca seperti karbon diopksida merupakan hasil pembakaran dari bahan bakar foisl (gas alam, minyak bumi, batu bara). Kendaraan bermotor yang kita gunakan menggunakan bahan bakar fosil, semakin banyak konsumsi bahan bakar maka akan semakin banyak gas karbon dioksida yang terbuang. Pepohonan sebagai pengisap karbon dioksida sekarang semakin berkurang. Kertas yang kita gunakan berasal dari pepohonan, maka dengan pemakaian kertas daur ulang akan mengurangi jumlah pohon bagi konsumsi kertas. Hematlah energi dengan mengurangi komsumsi listrik, dengan mengganti bolam listrik dengan lampu yang hemat energi. Jangan standby-kan alat lisrtik anda karena menghabiskan listrik, dan masih banyak lagi..karena perubahan yang kita lakukan akan menyelamatkan kita dan generasi penerus kita, anak-anak kita dan bumi kita.

Global warming merupakan peningkatan suhu dari permukaan bumi!!

Kenapa hal itu bisa terjadi? Hal itu bias terjadi karena peningkatan produksi dari gas rumah kaca. Gas rumah kaca adalah sekelompok gas yang berada di atmosfer dan menyebabkan panas yang timbul dari permukaan bumi kembali dipancarkan ke permukaan bumi. Gas-gas ini “memerangkap” panas dalam permukaan bumi. Salah satu penumbang terbesar adalah karbon dioksida yang berasal dari pembakaran batu bara, minyak, dan gas.

Pemanasan global mempengaruhi kehidupan kita. Mulai dari segi ekonomi, sosial budaya dan kesehatan. Perilaku kita pun berinteraksi dengan kondisi pemanasan global sehingga turut mendukung terjadinya gangguan kesehatan. Terutama anak-anak yang merupakan kelompok masyarakat yang rentan terhadap penyakit. Mengapa demikian??? karena proses tumbuh dan berkembang secara fisik dan psikologis masih dalam perkembangan maka mereka rentan terhadap efek-efek dari bahaya lingkungan. Efek langsung berupa peningkatan temperatur, peningkatan zat-zat polusi mempengaruhi kesehatan mereka (asma dan alergi). Bila terjadi bencana akibat banjir maka anak-anak pun menjadi kelompok yang paling menderita. Mereka rentan terhadap penyakit seperti diare, mereka rentan terhadap stres, apalgi bila kehilangan tempat tinggal, sekolah atau keluarga. Pengungsian akan membuat mereka semakin rentan tertular penyakit karena padatnya orang dalam pengungsian.

Apa yang bisa kita lakukan???

Sadar atau tidak kita turut menyumbang kepada pemanasan global. Gas rumah kaca seperti karbon diopksida merupakan hasil pembakaran dari bahan bakar foisl (gas alam, minyak bumi, batu bara). Kendaraan bermotor yang kita gunakan menggunakan bahan bakar fosil, semakin banyak konsumsi bahan bakar maka akan semakin banyak gas karbon dioksida yang terbuang. Pepohonan sebagai pengisap karbon dioksida sekarang semakin berkurang. Kertas yang kita gunakan berasal dari pepohonan, maka dengan pemakaian kertas daur ulang akan mengurangi jumlah pohon bagi konsumsi kertas. Hematlah energi dengan mengurangi komsumsi listrik, dengan mengganti bolam listrik dengan lampu yang hemat energi. Jangan standby-kan alat lisrtik anda karena menghabiskan listrik, dan masih banyak lagi..karena perubahan yang kita lakukan akan menyelamatkan kita dan generasi penerus kita, anak-anak kita dan bumi kita.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.